Sekitar seratus pelajar sekolah dasar memenuhi lapangan Samargalila Labuha, Halmahera Selatan. Dengan berpakaian adat lengkap dan diiringi musik, mereka berputar, menghentakkan kaki menari Dana-Dana, tarian khas Maluku Utara, menyambut para tamu yang berkunjung ke daerah mereka. Hari itu, Senin 22 April 2013, empat ratus enam puluh orang fasilitator PLA Malaria desa dari enam kabupaten di Provinsi Maluku Utara berkunjung ke Halmahera Selatan untuk mengikuti kegiatan Jambore Fasilitator Participatory Learning and Action (PLA) Malaria Desa.
Halmahera Selatan sebagai satu daerah endemis malaria di Muluku Utara, sepuluh tahun terakhir gencar melakukan berbagai upaya untuk menurunkan angka kematian dan kasus malaria. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mendirikan Malaria Center, sebuah Pusat Pelayanan Malaria terpadu pada tahun 2004. Namun perang terhadap malaria tidak cukup hanya dengan mendirikan Malaria Center, penanggulangan malaria harus dilakukan secara komprehensif dengan upaya promotif, preventif dan kuratif. Diperlukan sebuah upaya yang terintegrasi, dilakukan secara lintas sektoral dan melibatkan seluruh komponen masyarakat. “Partisipasi masyarakat merupakan kunci untuk memenangkan perang terhadap malaria”, demikian diungkapkan Dokter Azis, seorang dokter yang telah mengabdikan hidupnya untuk memerangi malaria di Maluku Utara. Malaria Center kemudian menggunakan metode Participatory Learning and Action (PLA) yakni sebuah pendekatan dengan melibatkan masyarakat dalam memerangi malaria.
Melalui metode PLA, para pengelola Malaria Center dengan dukungan dari UNICEF melatih dua kader pejuang malaria dari tiap desa di Halmahera Selatan. Pelatihan ini dilakukan untuk mengenalkan apa itu malaria, melakukan musyawarah penyusunan Rencana Kegiatan Masyarakat dalam memerangi malaria dan membentuk Komite Malaria Desa.
Dengan cara ini para kader yang kemudian disebuat fasilitator PLA mendapatkan edukasi tentang malaria dan dapat melakukan pemberantasan malaria bersama masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat menjadi lebih sehat.
Penangananmalaria tidak hanya dilakukan di tingkat masyarakat, namun juga ditingkat pemerintahan. Pemerintah daerah memberi dukungan melalui Alokasi Dana Desa Khusus (ADDK) Malaria untuk membiayai berbagai kegiatan penanggulangan malaria.
Berbagai komponen dilibatkan, BAPPEDA, Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Dinas Perikanan, Dinas Pekerjaan Umum, bahkan Dinas Pendidikan turut ambil bagian dalam Malaria Center. Hal ini menjadikan Malaria Center sebagai sebuah pusat untuk koordinasi, komunikasi, informasi dan aktivitas pemberantasan malaria.
Dikembangkan tahun 2008 di Halmahera Selatan, kini fasilitator PLA malaria desa tidak hanya bisa kita temui di desa-desa Halmahera Selatan, namun juga di kabupaten lain di Maluku Utara. Saat ini 300 desa di Maluku Utara telah memiliki Fasilitator PLA malaria. Malaria Center, sebagai instusi yang mengembangkan pendekatan fasilitator PLA Malaria Desa, juga menjadi pusat belajar malaria, tidak hanya bagi daerah-daerah di Maluku Utara namun juga daerah-daerah lainnya di Indonesia bahkan dari luar negeri.
Program pemberdayaan masyarakat dengan metode PLA juga telah membuat Halmahera Selatan berhasil menurunkan kasus malaria sebesar 63% dalam kurun waktu lima tahun, lebih cepat dari target yang direncanakan. Selain itu, Kabupaten Halmahera Selatan berhasil mendapatkan MDGs Award 2012 untuk kategori Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS & Penyakit Menular Lainnya.
Untuk menjaga semangat kepedulian, memantapkan kerjasama lintas sektor menuju Indonesia bebas malaria pada tahun 2030 dan dalam rangka Hari Malaria Sedunia, Malaria Center berinisiatif mengadakan Jambore Fasilitator PLA Malaria desa untuk pertama kalinya. Jambore ini dilaksanakan pada tanggal 22 – 25 April dengan menghadirkan fasilitator-fasilitator PLA Malaria dari enam kabupaten di Provinsi Maluku Utara juga beberapa peserta peninjau dari kabupaten yang belum mengembangkan metode PLA dan peserta peninjau dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang beberapa daerahnya juga dikenal sebagai daerah endemis Malaria.
Kegiatan Jambore Fasilitator PLA Malaria Desa dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Maluku Utara, Bapak K.H Abdul Gani Kasuba dan turut dihadiri oleh para muspida Provinsi Maluku Utara. Jambore Fasilitator PLA Malaria Desa kali ini bertema “Perkuat Kemitraan; akselerasi Maluku Utara Bebas Malaria”.
Jambore ini mengamanatkan agar seluruh komponen bangsa yang terkait, bekerja sama secara sinergis untuk mencapai tujuan Millenium Development Goals (MDGs) yaitu mengendalikan malaria menjadi kurang dari 1 per 1000 penduduk pada tahun 2015 dan tujuan nasional, Indonesia Bebas Malaria tahun 2030 guna menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Seperti Jambore pada umumnya, Jambore Fasilitator PLA malaria desa juga diisi oleh berbagai kegiatan sebagai berikut.
Sarasehan pengendalian malaria berbasis masyarakat
Sarasehan ini bertujuan untuk memperkuat komitmen para fasilitator PLA malaria desa. Pada kegiatan ini para fasilitator yang berasal dari berbagai daerah saling bertukar pengalaman dalam pengendalian malaria termasuk pengalaman peningkatan kesehatan ibu dan anak. Pada kegiatan ini juga digali praktik-praktik cerdas yang dikembangkan oleh masyarakat dalam rangka pengendalian malaria.
Lomba Simulasi PLA
Dalam rangka mengukur pemahaman metode PLA para fasilitator, dilakukan lomba simulasi PLA. Simulasi PLA diikuti oleh 5 tim yang mewakili Kabupaten Halmahera Selatan, Kota Tikep, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Pulau Morotai.
Dalam lomba tersebut, yang dijadikan point penilaian adalah sistematika pelaksanaan PLA, muatan materi malaria, KIA dan imunisasi, kerjasama tim fasilitator hingga adanya Rencana Kegiatan Masyarakat.
Seminar ekonomi pedesaan
Jambore fasilitator PLA malaria desa tidak hanya membahas malaria namun juga memberikan pengetahuan lain, salah satunya bagaimana membuka wawasan masyarakat mengenai sesuatu yang berada di sekeliling mereka dan memiliki nilai ekonomi melalui kegiatan seminar ekonomi pedesaan. Para fasilitator PLA mendapat pencerahan ekonomi dari beberapa narasumber dari berbagai institusi seperti Bank Indonesia dan Koperasi Malifut. Selain itu para fasilitator PLA juga diberi pengetahuan pengelolaan sampah dengan menabung sampah di Bank Sampah. Sebuah upaya yang tentu sangat terkait dengan upaya pengendalian malaria.
Pemecahan Rekor MURI (Museum Rekor Dunia – Indonesia)
Puncak dari kegiatan Jambore Fasilitator PLA malaria Desa ditandai dengan pemecahan Rekor Museum Dunia Indonesia (MURI) yakni dengan pembuatan kelambu terbesar dengan ukuran panjang 66,6 meter, lebar 44 meter dan tinggi 3 meter yang dicatat bertepatan dengan perayaan Hari Malaria sedunia, tanggal 25 April 2013.
Pada kesempatan ini juga ditetapkan Dik Doank, salah seorang penyanyi yang akhir-akhir ini aktif dalam pengembangan sosial masyarakat, menjadi Duta Malaria Halmahera Selatan.
Kegiatan Jambore telah berakhir, namun tugas para fasilitator PLA malaria desa dan para pengelola Malaria Center di Labuha tidak ikut berakhir. Beberapa rencana tindak lanjut telah disepakati untuk dijalankan dalam rangka penurunan angka kasus malaria. Jambore Fasilitator PLA Malaria Desa sendiri telah ditetapkan untuk dilaksanakan setiap dua tahun sekali Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Timur telah menerima PATAKA JAMBORE dari Pemerintah Halmahera Selatan untuk menjadi tuan rumah Jambore fasilitator PLA malaria desa II pada tahun 2015.
Sampai jumpa di Maba!
OLEH AFDHALIYANNA MA'RIFAH
BaKTI News edisi MARET - APRIL 2013

